Gucci Bakal Sponsori Pelestarian Istana Gyeongbok Korea Selatan

Gucci mengumumkan perjanjian sponsor selama tiga tahun dengan Administrasi Warisan Budaya Korea Selatan (CHA) yang dirancang untuk melestarikan Istana Gyeongbok. Presiden dan CEO Gucci Marco Bizzarri telah menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Choi Eung Chon, kepala CHA, dikutip dari Korea Times, Selasa (15/11/2022).

Kedua belah pihak sepakat bekerja sama dalam proyek restorasi masa depan istana kerajaan era Joseon yang bersejarah, kata perusahaan itu. “Kecantikan berfungsi sebagai sumber inspirasi yang berkelanjutan untuk Gucci, tapi juga membutuhkan perawatan dan usaha yang konstan,” kata Bizzarri. “Kerja sama merek dengan CHA akan membantu menjaga warisan artistik yang kaya dari situs bersejarah ini.”

Merek mewah asal Italia itu sebelumnya mengumumkan rencananya menyelenggarakan peragaan busana di Istana Gyeongbok pada awal November 2022 untuk memamerkan “Gucci Cosmogonie Collection Seoul.” Acara bertema selestial itu dijadwalkan menandai pertunjukan debut Alessandro Michele di Korea Selatan.

Koleksi yang dipersembahkan telah diluncurkan sebelumnya di Castel Del Monte di Apulia Italia pada Mei lalu. Mereka juga awalnya akan ada beberapa penampilan baru yang belum dirilis di tempat lain.

Namun, pertunjukan fesyen itu dibatalkan pada 30 Oktober 2022 untuk menghormati tragedi Itaewon yang merenggut 156 nyawa dalam kerumunan maut sehari sebelumnya. “Setelah berbicara dengan Administrasi Warisan Budaya (Korea Selatan), kami memutuskan membatalkan peragaan busana yang dijadwalkan akan diadakan di Istana Gyeongbok pada 1 November 2022,” kata Gucci, lapor Korea Joongang Daily.

Istana Gyeongbokgung
Rumah mode itu menyambung, “Kami ingin menghormati masa berkabung nasional Korea dan menyampaikan belasungkawa terdalam kami pada para korban tragedi di Itaewon pada 29 (Oktober 2022).” Keputusan ini menambah deretan panjang agenda yang dibatalkan atau diundur selama Negeri Ginseng berduka atas tragedi pesta Halloween di Itaewon, akhir bulan lalu.

Istana Gyeongbokgung dibangun pada 1395, dan sering disebut sebagai Istana Utara karena terletak paling utara jika dibandingkan istana tetangga Changdeokgung (Istana Timur) dan Gyeonghuigung (Istana Barat). Istana Gyeongbokgung bisa dibilang yang paling indah, dan tetap yang terbesar dari total lima istana.

Tempat itu pernah ludes terbakar selama Perang Imjin (1592–1598). Namun, semua bangunan istana kemudian dipugar di bawah kepemimpinan Heungseondaewongun pada masa pemerintahan Raja Gojong (1852–1919).

Hebatnya, bangunan paling representatif dari dinasti Joseon, Paviliun Gyeonghoeru, dan kolam di sekitar Paviliun Hyangwonjeong masih relatif utuh. Penanda batu Geunjeongjeon di kompleks istana menampilkan gaya seni yang representatif pada masanya.

Kalah Gugatan
Sebelumnya, Gucci dilaporkan kalah dalam gugatan merek dagang terhadap produsen kaus Jepang, Parodys, yang memiliki rekam jejak meniru logo merek fesyen mewah. Kendati demikian, pengacara spesialis paten yang memenangkan kasus atas nama perusahaan pakaian yang berbasis di Osaka tersebut mengakui bahwa ia merasa undang-undang Jepang saat ini perlu dievaluasi.

Melansir SCMP, Gucci mengajukan gugatan terhadap Parodys, yang dimiliki Nobuaki Kurokawa, setelah mencatat bahwa ia punya merek dagang bernama “CUGGL” pada Oktober 2020. Kurosawa menerapkan nama itu pada pakaian, ikat pinggang, alas kaki, dan pakaian atletik.

CUGGL muncul dalam font yang sama seperti yang digunakan dalam logo rumah mode tersebut, bahkan dengan jarak yang mirip. Namun, perusahaan Kurosawa menggunakannya dengan garis tebal berwarna yang menutupi bagian bawah setiap huruf.

Komplain yang diajukan Gucci adalah garis tersebut mengaburkan bagian-bagian dari huruf yang akan mengungkap mereka untuk terbaca sebagai “CUGGL.” Mengingat Gucci adalah merek terkenal secara internasional, siapa pun yang hanya melihat bagian atas huruf-huruf itu akan menganggap mereka mengarang kata Gucci.

Keputusan Aneh
Juli lalu, Kantor Paten Jepang memutuskan bahwa merek dagang CUGGL “tidak mungkin disamakan dengan GUCCI,” atau mungkin memiliki “hubungan ekonomi atau organisasi dengan pemohon.” Masaki Mikami, pendiri Marks IP Law Firm, sebelumnya mengatakan bahwa ia yakin memenangkan kasus ini atas nama Kurokawa.

Mikami berkata, “Tidak mungkin konsumen Jepang akan menghubungkan istilah ‘CUGGL’ dengan ‘GUCCI.’ Saya tidak berpikir logo ‘GUCCI’ telah digunakan dengan garis yang dicat. Jika demikian, tidak ada kemungkinan kebingungan yang masuk akal.”

“Selain itu, Kurokawa tidak mempromosikan kaus berlogo ‘CUGGL’ dengan memanfaatkan GUCCI, karena ia mengiklankannya sebagai parodi,” ucapnya. Selain itu, kata Mikami, kata-kata tersebut tidak memiliki bunyi yang sama saat diucapkan.

Berdasarkan undang-undang merek dagang Jepang, Mikami menjelaskan, sebuah gambar hanya dapat dilarang jika menimbulkan kebingungan dengan merek terkenal. Jadi, jika konsumen tidak percaya bahwa suatu produk adalah produk asli dari merek terkenal, itu tidak dapat dilarang penjualannya.

Dapat dikatakan bahwa itu adalah “keputusan aneh,” mengingat merek Jepang sering mengungkap kekhawatiran produk mereka ditiru di luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *