Posisi Busi Jarang Tersentuh, Bagaimana Memastikan Sudah Waktunya Ganti atau Belum?

Beberapa tipe motor menempatkan busi pada posisi yang sulit dilihat, apalagi mobil. Hal ini kerap menyebabkan busi kurang sentuhan dan tidak diperhatikan. Padahal bila saja sudah waktunya ganti, meski secara size kecil, busi bisa bikin repot saat perjalanan.

Namun, bagaimana menemukan indikator yang pas untuk menentukan kapan busi seharusnya sudah diganti dan belum?

Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, punya tolok ukur tersendiri untuk menentukan penggantian busi paling tepat. Menurutnya untuk orang awam soal mesin, berpatokan pada buku manual kendaraan merupakan solusi paling efisien.

“Saya membaginya jadi dua. Orang awam, sama orang yang tahu soal mesin. Kalau orang awam, udah pedoman kilometer aja. Buku manual udah ngejelasin semua,” ujar Diko.

Berdasarkan Penggantian Oli
Tapi bila tidak mau repot dan ingin kendaraan dalam performa terbaiknya, bisa mengikuti pola penggantian oli; dengan asumsi kondisi mesin sehat.

“Dua kali ganti oli, satu kali ganti busi. Di pedoman (kendaraan) sudah disebut. Itu sebetulnya buat ngemudahin kita biar preventif,” imbuh dia.

Beda cerita lagi bagi mereka yang benar-benar mengatur pengeluaran dan terkendala faktor ekonomi. Mau tidak mau menaksir budget untuk pembelian part mobil lumrah dilakukan. Jadinya bila ingin tahu kapan paling pas mengganti busi, ya paling tidak melihat langsung kondisinya.

“Tapi kalau tipikal orang yang nunda dulu, keuangan gini, segala macem, harus tahu dulu kapan harus ganti dengan cara melihat bentuk businya. Itu pasti effort ya. Kalau buat cowok, masih oke. Kalau buat cewek, ngebongkar-bongkar lagi ke bengkel, sepertinya malah buang-buang duit.”

Nah terakhir untuk orang-orang yang suka utak-atik kendaraan atau petrolhead. Bongkar sana-sini sudah jadi hal rutin dan tidak masalah memaksimalkan pemakaian busi sampai mentok. Ibarat makan buah apel kalau belum tersisa isinya tidak akan dibuang, pastinya akan lebih mudah lagi mengontrol kapasitas busi.

“Kalau buat kita yang biasa bongkar-bongkar, yaudah. Lihat businya. Kalau (elektroda) businya udah habis, terkikis, udah selesai langsung ganti,” timpalnya lagi.

Berpatokan pada Jarak Tempuh
Kondisi lain yang bisa diperhitungkan ialah mengukur jarak tempuh. Atau menilai berdasarkan sudah berapa kilometer kendaraan dijalankan.

Tapi harus diwaspadai juga bila masing-masing tipe busi, tergantung material, punya masa pakai yang berbeda-beda.

Diko memaparkan, kalau mau yang paling awet ada harga ada kualitas. Pun imbasnya ikut-ikutan ke performa.

“Kilometer bisa, 6.000 sampai 10.000 kilometer buat motor. 20.000 sampai 40.000 itu buat mobil. Tapi itu buat nikel ya. Kalau buat yang logam mulia, itu 100.000 kilometer untuk mobil, 40.000 – 50.000 kilometer buat motor,” Diko menerangkan.