Busi yang Cocok untuk Motor Harley-Davidson, Seperti Apa Bentuknya?

Selain motor Jepang yang melimpah dengan produksi matic, Indonesia kaya akan merek-merek lain dan dari berbagai negara seperti Italia, Jerman, India, Taiwan, China, Perancis sampai Amerika Serikat.

Salah satu motor yang terkenal dari Amerika Serikat ialah Harley-Davidson. Motor ini cukup melegenda di Indonesia dan populasinya lumayan besar yang kini distribusinya dikuasai oleh authorized main dealer Anak Elang Harley-Davidson.

Tak ubahnya motor internal combustion engine (ICE) lain, Harley-Davidson masih memakai busi sebagai komponen vital mesin. Lantas, busi seperti apa sih yang paling cocok motor ‘Paman Sam’ ini?

Busi Iridium
Motor dengan mesin besar seperti Harley-Davidson lebih cocok menggunakan nikel maupun iridium.

Ambil satu contoh Harley-Davidson Sportster S yang mengadopsi mesin 1.252cc. Merujuk pada fitur ‘Part Finder’ dalam situs resmi ngkbusi.com milik PT NGK Busi Indonesia, dikutip Jumat (30/12/2022), Sportster S masih bisa menggunakan busi tipe nikel alloy dengan kode BPR5ES-11.

Pemakaiannya bisa untuk seri 2021 sampai dengan yang ada saat ini.

Tapi kalau ingin upgrade ke iridium, mengutip keterangan sosial media @ngkbusi (29/12/2021), pilihannya NGK Iridium IX yang tersedia untuk tipe Harley-Davidson XL883, XL883/C dan XL883R.

Dalam keterangan unggahan itu juga disebutkan bahwa busi khusus ini didatangkan langsung dari Jepang spesial untuk pecinta Harley-Davidson Sportster di Indonesia.

Busi Mobil Rusak Satu, Kenapa Harus Diganti Semuanya?

Mobil umum memiliki tiga sampai empat busi, tergantung jumlah silinder. Tidak jarang, busi mengalami keausan pada satu silinder saja. Bila ingin diganti baru, haruskah mengganti semua busi, atau hanya pada satu saja yang bermasalah?

Pertanyaan ini memang kerap dilontarkan. Terlebih bila tujuannya ingin menghemat pengeluaran dengan cara hanya mengganti satu saja yang bermasalah dan membiarkan yang lain. Asumsinya, sisa busi yang ada masih bisa dipakai dan sayang untuk dibuang.

Akan tetapi perlu dipahami dahulu bila ada efek domino dari periode penggantian yang salah seperti ini. Pertama, busi mengalami kerusakan jamak karena terlalu lama tidak diperbarui. Otomatis menyambar koil. Risiko ini yang justru bikin kantong jebol.

Permasalahan pada Koil
“Penyebab utama mobil mogok atau rusak (dari sisi kelistrikan dan busi) pasti koil. Sebenarnya koil itu bisa dideteksi rusak, karena awal dari gejala busi. Busi udah kelamaan enggak diganti, akhirnya bocor dan nyambar ke koil. Baru koil bermasalah. Ketika koil bermasalah baru terasa, budget beli koil besar banget,” ungkap Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, saat ditemui Otosia dalam acara coaching clinic kepada awak media di Tangerang Selatan, Sabtu (24/12/2022).

Nah, ketika diketahui satu silinder mengalami mati busi, lalu hanya diganti satu saja, permasalahan lain muncul. Seiring berjalan waktu, masa pakai busi yang masih normal tentu sudah terforsir. Tidak ada yang tahu tinggal berapa persen umur busi itu.

Kemudian kemampuan yang tidak sama antar silinder berpotensi memicu ketidakseimbangan produksi power. Kalau businya baru, pasti akan beda dibandingkan yang lain. Ini yang bikin performa mobil tidak juga bisa maksimal.

“Padahal sebetulnya itu bisa dicegah. Kebiasaan di kita, ketika satu silinder bermasalah, udah itu doang yang diganti. Karena apa, kita tidak pernah tahu. Nih satu dari empat silinder, kita tidak pernah tahu keausannya sudah 20 persen, 40 persen atau segala macem. Jadinya tidak seimbang,” tutur Diko menambahkan.

Siklus Tidak Normal
Kalau saja ditemukan busi ternyata sering mati, padahal masih baru, asumsi lanjutan berarti bukan titik itu yang bermasalah, melainkan kendala lain contohnya proses kombusi atau perangkat kelistrikan tidak normal. Yang jelas, mesin tidak sedang baik-baik saja.

“Katakanlah problem busi sering banget mati. Yang perlu dicari, kenapa seperti itu? Bukan businya yang gampang diganti. Karena misal diganti satu silinder doang, tiga silinder yang lain nanti tidak imbang,” ujarnya.

Lebih lanjut, proses yang sama seperti ini akan berlanjut terus-menerus, satu silinder rusak diganti dan seterusnya. Lama-lama tidak akan pernah selesai sedangkan jelas-jelas performa mesin pincang.

“Lama-lama siklus penggantian komponen enggak stabil. Itu lebih enggak enak lagi, dibandingkan serempak. Diganti, habis itu tidak ada problem lagi di kemudian hari,” tutup dia.

Posisi Busi Jarang Tersentuh, Bagaimana Memastikan Sudah Waktunya Ganti atau Belum?

Beberapa tipe motor menempatkan busi pada posisi yang sulit dilihat, apalagi mobil. Hal ini kerap menyebabkan busi kurang sentuhan dan tidak diperhatikan. Padahal bila saja sudah waktunya ganti, meski secara size kecil, busi bisa bikin repot saat perjalanan.

Namun, bagaimana menemukan indikator yang pas untuk menentukan kapan busi seharusnya sudah diganti dan belum?

Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, punya tolok ukur tersendiri untuk menentukan penggantian busi paling tepat. Menurutnya untuk orang awam soal mesin, berpatokan pada buku manual kendaraan merupakan solusi paling efisien.

“Saya membaginya jadi dua. Orang awam, sama orang yang tahu soal mesin. Kalau orang awam, udah pedoman kilometer aja. Buku manual udah ngejelasin semua,” ujar Diko.

Berdasarkan Penggantian Oli
Tapi bila tidak mau repot dan ingin kendaraan dalam performa terbaiknya, bisa mengikuti pola penggantian oli; dengan asumsi kondisi mesin sehat.

“Dua kali ganti oli, satu kali ganti busi. Di pedoman (kendaraan) sudah disebut. Itu sebetulnya buat ngemudahin kita biar preventif,” imbuh dia.

Beda cerita lagi bagi mereka yang benar-benar mengatur pengeluaran dan terkendala faktor ekonomi. Mau tidak mau menaksir budget untuk pembelian part mobil lumrah dilakukan. Jadinya bila ingin tahu kapan paling pas mengganti busi, ya paling tidak melihat langsung kondisinya.

“Tapi kalau tipikal orang yang nunda dulu, keuangan gini, segala macem, harus tahu dulu kapan harus ganti dengan cara melihat bentuk businya. Itu pasti effort ya. Kalau buat cowok, masih oke. Kalau buat cewek, ngebongkar-bongkar lagi ke bengkel, sepertinya malah buang-buang duit.”

Nah terakhir untuk orang-orang yang suka utak-atik kendaraan atau petrolhead. Bongkar sana-sini sudah jadi hal rutin dan tidak masalah memaksimalkan pemakaian busi sampai mentok. Ibarat makan buah apel kalau belum tersisa isinya tidak akan dibuang, pastinya akan lebih mudah lagi mengontrol kapasitas busi.

“Kalau buat kita yang biasa bongkar-bongkar, yaudah. Lihat businya. Kalau (elektroda) businya udah habis, terkikis, udah selesai langsung ganti,” timpalnya lagi.

Berpatokan pada Jarak Tempuh
Kondisi lain yang bisa diperhitungkan ialah mengukur jarak tempuh. Atau menilai berdasarkan sudah berapa kilometer kendaraan dijalankan.

Tapi harus diwaspadai juga bila masing-masing tipe busi, tergantung material, punya masa pakai yang berbeda-beda.

Diko memaparkan, kalau mau yang paling awet ada harga ada kualitas. Pun imbasnya ikut-ikutan ke performa.

“Kilometer bisa, 6.000 sampai 10.000 kilometer buat motor. 20.000 sampai 40.000 itu buat mobil. Tapi itu buat nikel ya. Kalau buat yang logam mulia, itu 100.000 kilometer untuk mobil, 40.000 – 50.000 kilometer buat motor,” Diko menerangkan.