Pengacara Ferdy Sambo Pertanyakan Validitas Hasil Tes Poligraf

Pengacara Ferdy Sambo, Rasamala Aritonang mempertanyakan validitas hasil tes poligraf. Rasamala mengatakan, penggunaan tes poligraf dalam pengadilan pidana masih kontroversial.

Hal tersebut diucapkan Rasamala sebagai respons atas keterangan saksi ahli poligraf atau uji kebohongan Polri, Aji Febrianto yang mengungkapkan bahwa terdakwa pembunuhan Brigadir J, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi terindikasi berbohong saat menjalani tes poligraf.

“Akurasi dari tes poligraf masih dipertanyakan. Tadi kami sampaikan beberapa jurnal-jurnal internasional misalnya yang juga melihat bahwa tes poligraf sebagai suatu yang kontroversial dalam pemeriksaan bukti di pengadilan memang itu digunakan utk pembuktian yang lain. Tes poligraf kontroversial dalam persidangan untuk bukti pengadilan,” ujar Rasamala seusai sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Aji di persidangan menjelaskan, skor minus menunjukkan artinya yang terperiksa terindikasi berbohong atau deception indicated. Namun, jika yang diperiksa memperoleh skor positif, maka itu menunjukkan tidak terindikasi berbohong atau no deception indicated (NDI).

Terkait dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi yang diduga sebagai otak dari peristiwa Duren Tiga ini, Ali menyatakan, hasil tes poligraf Ferdy Sambo adalah minus 8. Istri Sambo, Putri Candrawathi mendapatkan hasil minus 25 dalam tes tersebut. Oleh karena itu, Aji menyatakan Sambo dan Putri terindikasi berbohong.

Sebagai tim kuasa hukum terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, Rasamala mengatakan, tes poligraf tidak sepatutnya dijadikan acuan barang bukti dalam persidangan kasus pidana.

Terdakwa Kasus Pembunuhan Brigadir J, Ferdy Sambo Cs Bakal Dengarkan Keterangan Ahli

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kembali melanjutkan sidang perkara dugaan pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Pada sidang kali ini, lima terdakwa dihadirkan untuk mendengarkan keterangan ahli termasuk Ferdy Sambo.

Hari ini, jaksa penuntut umum akan menghadirkan ahli untuk bersaksi sesuai dengan keilmuannya dalam perkara tersebut.

Keterangan ahli yang dihadirkan oleh yaitu, ahli dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor), Adi Febrianto; Ahli Biologi Forensik, Siraju Umam; Ahli DNA, Vira Sania; ahli Balistik, Adi Sumirat; dan Ahli Digital Forensik, Heri Ferianto.

Mereka akan bersaksi langsung untuk kelima terdakwa yang bakal disatukan dalam persidangan hari ini, yakni terdakwa yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Ma’ruf.

“Saya meminta kesediaan dari penasihat hukum terdakwa, sidang akan kami gabung untuk lima terdakwa ini,” kata Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santoso saat persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan Selasa (13/12/2022).

Sementara, Bharada E akan mengikuti persidangan melalui zoom dari ruangan lain di PN Jaksel. Bharada E dipisah lantaran statusnya sebagai justice collaborator (JC), sehingga mendapat perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Jadi penasihat hukum kelima terdakwa akan duduk di sini dan untuk terdakwa Richard, kita akan pisahkan dia akan ikuti zoom,” ujar Hakim Wahyu.

Pada perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Rencanakan Pembunuhan

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

“Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,” ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Hilangkan Sidik Jari Sambo, Putri Candrawathi Minta Richard dan Ricky Semprotkan Desinfektan ke Barang Pribadi Yosua

Richard Eliezer dan Ricky Rizal sempat diminta Putri Candrawathi untuk membersihkan barang-barang milik Brigadir Yosua yang berada di rumah pribadi Ferdy Sambo di Jalan Saguling, Jakarta Selatan.

Hal itu diungkapkan oleh Richard Eliezer saat persidangan kasus penembakan Yosua di PN Jakarta Selatan.

Awalnya hakim bertanya kepada Richard apakah ia pernah diperintah oleh Sambo dan Putri untuk membersihkan barang Yosua.

Menurut Richard, barang-barang Yosua sudah di packing dan diantar ke Pos Ajudan yang berada di rumah dinas Ferdy Sambo, Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

“Siap saya jelaskan setelah beberapa kejadian itu, pada saat itu saya lagi diperiksa di Mabes, jadi saya gak tahu ternyata barang barang almarhum ini sudah di packing di karduskan, Lalu barang itu di antar ke pos ajudan yang di Duren Tiga,” jelas Richard.

“Tahunya dari mana?,” tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Itu tahunya setelah sudah saya sampai Saguling, kamar sudah bersih. Saya tanya ke Agus atau Kodir kalau tidak salah, ‘om ini barang barang dimana Karena kan barang barang almarhum kebanyakan di Saguling’. ‘Sudah om sudah di packing sudah dibawa ke posko di Duren Tiga’,” jawab Richard.

Menurut Richard, Putri pernah memanggil dirinya, Ricky Rizal, dan Kuat Maruf untuk mengambil kembali barang-barang Yosua ke Saguling. Ia pun diminta untuk menaikkan kembali barang-barang Yosua ke lantai dua rumah Saguling.

“Lalu lupa, saya lupa tepatnya hari apa, ibu itu memanggil kami bertiga, saya bang Ricky dan om Kuat ke lantai dua, Saguling. Lalu ibu Putri ini bilang ke saya sama Ricky, ‘Dek nanti kalian berdua pergi pakai mobil ke posko ambil barang barang almarhum bawa lagi ke rumah Saguling nanti naikkan lagi ke lantai dua ruang kerja’,” kata Richard.

Richard mengungkapkan, Putri sempat meminta barang-barang Yosua dibersihkan menggunakan sarung tangan karet. Selain itu baju-baju Yosua di laundry dan di plastikan.

“Saya saat itu belum tahu tujuan nya apa, pergilah saya sama bang Ricky saat itu, ambil barang pakai mobil, sampai antar ke lantai dua. Baru ibu bilang ‘nanti pakai sarung tangan ya, sarung tangan karet sama om Kuat juga’. kami bertiga disuruh ibu PC untuk membersihkan barang almarhum ini, di laundry untuk baju nya jadi di plastikan,” tuturnya.
Setelah itu, Richard diminta untuk membersihkan barang-barang Yosua menggunakan desinfektan dan hand sanitizer, hal itu dikarenakan untuk menghilangkan sidik jari Ferdy Sambo yang sempat memegang barang-barang Yosua.

“Itu kita disuruh pakai desinfektan dan hand sanitizer untuk membersihkan baju barang barang dia dan dompet disuruh sama ibu. Kata ibu, bapak sempat memegang barang barang almarhum jadi mau menghilangkan sidik jari pak FS,” terang Richard.

ART Jelaskan Mimik Wajah Ferdy Sambo Usai Tembak Yosua : Matanya Merah seperti Menangis

Asisten Rumah Tangga (ART) Ferdy Sambo, Diryanto alias Kodir menjelaskan mimik wajah Sambo usai kasus penembakan Brigadir Yosua atau Brigadir J. Kata dia, Sambo saat itu seperti menangis dan matanya merah.

Diryanto pun dihadirkan sebagai saksi dalam sidang kasus penembakan Brigadir Yosua dalam agenda obstruction of justice, dengan terdakwa AKP Irfan Widyanto di PN Jakarta Selatan, Kamis (24/11/2022).
Awalnya majelis hakim bertanya soal Ferdy Sambo ingin memanggil Eks Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, Ridwan Soplanit ke rumah dinasnya.

“Saudara kan bilang FS minta panggil Ridwan Soplanit?,” tanya Hakim.

“Betul,” jawab Kodir.

“Untuk apa?,” tanya hakim kembali.

“Saya gatau,” ucap Kodir.

Lantas, Hakim langsung bertanya kepada Kodir bagaimana mimik wajah Ferdy Sambo pada saat itu.

“Bagaimana wajah FS saat itu?,” tanya Hakim

“Menangis, seperti menangis,” jawab Kodir.

Hakim pun memperjelas pertanyaannya soal mimik wajah Sambo saat itu, dengan analogi emoji di aplikasi WhatsApp.

“Emoji gitu lho, di WA ada emoji, marah, sedih, kesal, jengkel, pusing gimana?,” tegas Hakim.
“Matanya merah,” jawab Kodir.

“Saudara tanya?,” tanya Hakim kembali.

“Gak berani,” ucap Kodir.

“Kenapa gak berani?,” tanya Hakim.

“Gak berani aja, gak sopan pak,” lugas Kodir.